Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Senyum di Balik Stetoskop: Kisah Klinik dan Koin Harapan

Pak Harjo tidak pernah membayangkan, pagi itu, ia akan meninggalkan rumah sakit dengan kantong penuh selebaran promosi kesehatan. Di sudut selebaran itu, ada foto dokter muda tersenyum lebar, dengan tagline berbunyi, “Konsultasi Sehat, Gigi Putih, Hati Cerah – Diskon Khusus Minggu Ini!” Di bawahnya tertera QR code untuk pemesanan langsung. Pak Harjo menggaruk kepalanya. “Jadi, kalau saya beli tiga paket pemeriksaan jantung, bonusnya dapat apa, Dok?” tanyanya polos.

Dokter muda itu tersenyum sopan, seolah pertanyaan itu sudah ia dengar ribuan kali. “Dapat voucher kopi, Pak. Lumayan buat menunggu hasil tes.” Jawaban itu terucap begitu ringan, seakan logis bagi dunia kesehatan menawarkan promo seperti supermarket.

Senyum di Balik Stetoskop: Kisah Klinik dan Koin Harapan
Ilustrasi Profesi Dokter


Klinik-klinik baru bermunculan bak cendawan di musim hujan, lengkap dengan layanan tambahan yang tidak pernah dibayangkan oleh Hippocrates. Ada yang menawarkan konsultasi kesehatan disertai pijat refleksi gratis, hingga klinik dengan kafe Instagramable di ruang tunggunya. “Kami peduli pada kesehatan tubuh dan pikiran Anda,” begitu tertulis di dinding. Tapi, di pojok lain, daftar harga tes laboratorium terlihat lebih panjang dari resimen pengobatan itu sendiri.

Di sebuah kota kecil, ada klinik bernama “Sehat Selamanya” yang terkenal dengan program “Medical and Aesthetic Excellence.” Orang-orang datang tidak hanya untuk memeriksa kesehatan tetapi juga mendapatkan suntik vitamin yang katanya bisa membuat kulit cerah dalam semalam. Para dokter di sana berbincang dengan pasien seperti sahabat lama, melontarkan humor-humor ringan. “Kalau kolesterol Bapak sudah setinggi ini, harusnya kita kasih penghargaan, bukan obat. Hebat bisa hidup dengan level setinggi itu!”

Ironi terbesar terletak pada ruang gawat darurat rumah sakit besar, tempat para dokter yang bekerja shift malam sering mendapati pasien dengan gejala aneh. Malam itu, seorang pasien muda datang mengeluh dada sesak setelah meminum tiga botol suplemen herbal yang dijual oleh seorang influencer kesehatan terkenal. Dokter Raka, yang biasanya tenang, menghela napas panjang sambil berkata, “Jadi, kita sekarang bukan cuma dokter, tapi juga detektif ramuan instan?”

Namun, yang membuat cerita ini semakin absurd adalah adanya fenomena ‘bisnis kesehatan digital’. Platform kesehatan online menawarkan “chat langsung dengan dokter” selama tiga menit, dengan biaya tambahan untuk “jawaban yang lebih personal”. Di sisi lain, grup-grup WhatsApp keluarga menjadi pusat diskusi medis tanpa dasar ilmiah. Ibu-ibu berlomba memposting testimoni tentang salep atau obat herbal yang mereka klaim “lebih ampuh daripada dokter.”

Sebuah seminar kesehatan yang diadakan di hotel bintang lima beberapa waktu lalu menjadi ajang unjuk kebolehan para pelaku industri kesehatan. Di antara presentasi canggih tentang teknologi diagnostik terbaru, seorang pembicara mempromosikan gelang pintar yang katanya bisa mendiagnosis 20 penyakit hanya dengan getaran tertentu. Peserta seminar terkesima. Salah satu dokter senior berbisik kepada koleganya, “Kita belajar kedokteran lima tahun, tapi kalah sama teknologi dua baterai kecil.”

Di tengah semua ironi ini, ada sebuah klinik kecil yang berbeda. Klinik itu dikelola oleh seorang dokter tua bernama Bu Lia. Klinik ini tidak memiliki kafe, tidak ada promo spesial, dan tidak ada layanan estetika. Tapi ruang tunggunya selalu penuh, bukan karena alat-alat canggih, melainkan karena Bu Lia dikenal selalu mendengarkan dengan tulus.

Suatu hari, seorang pasien datang dengan keluhan yang sangat umum: batuk. Setelah memeriksa dengan teliti, Bu Lia bertanya lembut, “Apa yang benar-benar membuatmu gelisah?” Pasien itu, seorang ibu muda, akhirnya menangis, mengungkapkan kekhawatirannya tentang suaminya yang kehilangan pekerjaan. Bu Lia tidak memberikan resep mahal. Ia hanya berkata, “Kita semua punya hari-hari sulit. Jangan menyerah. Kadang, obat terbaik adalah mendengar dan dimengerti.”

Di luar sana, dunia kesehatan telah berubah menjadi ladang bisnis, di mana beberapa dokter merasa terjebak antara idealisme dan tekanan komersial. Tetapi klinik kecil Bu Lia membuktikan bahwa di balik ironi dan absurditas ini, masih ada tempat untuk harapan.

“Tidak terjadi di Indonesia”
#healthcare #medicalbusiness #satirestory #cerpen #ceritapendek #sastra #cerita


NYASTRA
NYASTRA Penjelajah sastra dunia

Post a Comment for "Senyum di Balik Stetoskop: Kisah Klinik dan Koin Harapan"