Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Rahasia Paling Cerah di Bawah Bayangan Gelap

Tak seorang pun mengira, di balik etalase kaca penuh botol kecil berwarna pastel itu, ada dunia yang lebih kelam daripada malam tanpa bulan. Produk skincare terbaru, yang katanya mengandung "esensi dari bulan purnama," laris manis hingga sulit dipercaya. Tapi siapa yang tahu, bulan purnama yang mereka maksud sebenarnya adalah campuran air hujan, sedikit bubuk berkilau, dan doa-doa para pemasar yang hafal mantra: “Kulit cerah, dompet tipis, tetap bahagia.”

Rahasia Paling Cerah di Bawah Bayangan Gelap
Ilustrasi Produk Skincare


Malam itu, di tengah riuhnya pameran kecantikan terbesar se-Asia Tenggara, seorang ibu muda bernama Indah berdiri dengan tangan menggenggam brosur. Brosur itu penuh dengan jargon—klaim bahwa satu tetes serum ajaib bisa membuat kulitmu memantulkan cahaya seperti cermin toko perhiasan. Indah tergoda, tentu saja. Ia menatap kulit wajahnya di layar ponsel, lalu menghela napas panjang. “Cahaya bulan purnama... Kenapa tidak sekalian bintang jatuh?” gumamnya, setengah bercanda. Penjaga stan mendengar dan tertawa kecil, lalu menyodorkan diskon spesial.

“Ini yang paling baru, Kak. Formula terkini, 99% alami,” katanya penuh semangat, sambil menyembunyikan label kecil bertuliskan “Made in Somewhere You Can't Pronounce.”

Indah membelinya, tentu saja. Malam itu, ia mencoba serum tersebut, berharap keajaiban datang. Tapi keesokan paginya, yang datang justru ironi: wajahnya memerah seperti mentari terbit. Dokter kulit yang dikunjunginya tertawa kecil. “Bu, ini reaksi alergi. Mungkin produknya terlalu ‘ajaib’ untuk kulit kita yang manusia biasa.”

Namun, cerita Indah hanyalah salah satu dari sekian banyak ironi. Di belahan lain kota, seorang influencer bernama Maya sedang merekam video promosi untuk merek skincare yang sama. Di depan kamera, ia berseri-seri, berbicara penuh keyakinan bahwa produk ini telah mengubah hidupnya. “Aku dulu jerawatan, sekarang lihat deh!” katanya sambil memperlihatkan wajah yang sempurna—hasil filter kamera dan sentuhan edit digital yang nyaris tak terlihat.

Di sela-sela rekaman, Maya tertawa kecil kepada manajernya. “Serum ini? Aku bahkan nggak pernah pakai.” Tapi siapa yang peduli? Penonton hanya melihat kulitnya yang bercahaya dan percaya bahwa mereka pun bisa seperti itu.

Paradoks semakin terlihat ketika sebuah perusahaan skincare lokal meluncurkan kampanye besar-besaran bertajuk "Cintai Kulit Alami." Di poster, modelnya berkulit putih porselen, tanpa noda. Di media sosial, netizen bertanya, “Kalau alami, kenapa harus putih?” Tapi pertanyaan itu tenggelam dalam gelombang komentar lain: “Di mana belinya? Ada diskon nggak?”

Ironi tak berhenti di situ. Para pembuat produk berlomba-lomba menciptakan formula “alami,” menggunakan bahan-bahan seperti daun kelor, kunyit, atau beras. Tapi di laboratorium, mereka menambahkan bahan kimia yang namanya bahkan sulit dieja. “Yang penting ada embel-embel ‘alami,’” kata seorang ahli kimia di balik layar, setengah bercanda, setengah putus asa.

Dan absurdnya? Ada seorang pria tua di pelosok desa yang sudah menggunakan ramuan kunyit dan kelor selama bertahun-tahun. Wajahnya memang sehat, tapi tidak ada yang memperhatikannya. Begitu produk yang sama dijual dalam botol kaca dengan harga tiga kali lipat, mendadak semua orang ingin mencobanya.

Di tengah hiruk-pikuk ini, seorang pemuda bernama Arman mencoba menjual produk skincare buatannya sendiri. Bahan utamanya? Air kelapa dan sedikit minyak kelapa. “Ini benar-benar alami!” katanya dengan antusias. Tapi usahanya kandas. Orang-orang lebih percaya pada produk yang dijual dengan harga tinggi, meski bahannya hampir sama.

Dalam sebuah seminar bisnis kecantikan, seorang pembicara terkenal memberikan wejangan: “Skincare bukan tentang apa yang ada di dalam botol, tapi apa yang ada di dalam iklan.” Para peserta tertawa, tapi mereka tahu itu benar.

Malam itu, di bawah langit Jakarta yang penuh polusi, Indah menatap botol serum ajaibnya dan bertanya-tanya: “Kenapa aku percaya ini?” Di layar TV, sebuah iklan baru tayang, menjanjikan serum terbaru yang bisa membuatmu terlihat sepuluh tahun lebih muda dalam tiga hari. Indah memutuskan untuk tidak membeli lagi, setidaknya untuk sementara. Tapi siapa yang tahu? Dalam dunia yang digerakkan oleh janji-janji kecantikan, setiap orang adalah pemain dalam drama yang absurd ini.

“Tidak terjadi di Indonesia.”

#skincare #beautyproducts #paradox #irony #satire #shortstory #cerpen #ceritapendek #sastra #cerita


NYASTRA
NYASTRA Penjelajah sastra dunia

Post a Comment for "Rahasia Paling Cerah di Bawah Bayangan Gelap"