Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Negara Tanpa Penjahat

Langit cerah di atas kota menyembunyikan kenyataan yang gelap. Di sebuah gedung megah bertingkat lima puluh yang menyerupai menara gading, seorang pria berdasi emas, bernama Tuan Arman, berdiri di balkon, memandang ke jalan raya yang dipenuhi bendera merah putih. Ia tersenyum sambil berkata, "Lihatlah, bangsa ini bersatu dalam cinta pada kemakmuran." Namun, di tangan kanannya, laporan keuangan negara yang teracak. Angka-angka itu seperti petir dalam diam, memaparkan realitas kebocoran anggaran yang cukup untuk membangun seribu sekolah.

Negara Tanpa Penjahat
Ilustrasi Negara Tanpa Penjahat


Di ruang rapat yang mewah di lantai bawah, para petinggi duduk dalam barisan. Salah seorang berbicara, "Kita harus menghapus stigma buruk. Bukan kita yang korup, tapi sistem yang membuat kita terlihat seperti itu. Sistem ini, Saudara-saudara, adalah musuh kita. Setuju?" Para hadirin mengangguk serentak sambil tersenyum, seperti boneka anggukan di dasbor mobil murah.

Di sudut ruangan, seorang asisten muda bernama Rani mencatat tanpa henti. Dia tidak mengerti kenapa harus menuliskan kata-kata kosong itu, tetapi dia tahu tugasnya: jangan berpikir, hanya lakukan. Di luar, kota gemerlap oleh lampu-lampu neon yang menari, seakan berpesta atas tragedi yang sedang berlangsung.

Sementara itu, di sebuah warung kecil di pinggir jalan, Pak Darman, seorang tukang becak tua, tengah berbincang dengan beberapa pelanggan setianya. "Coba lihat berita tadi malam," katanya, seraya menyesap kopi hitam yang lebih pahit dari hidupnya. "Mereka bilang angka kemiskinan turun, tapi kita semua tahu uang itu pergi ke mana."

Seorang pemuda menjawab, "Tapi Pak, mereka sudah kasih bantuan sosial." Pak Darman tertawa keras, hampir tersedak. "Bantuan sosial? Itu cuma amplop kosong yang isinya janji. Kamu buka, isinya udara."

Di sisi lain kota, di sebuah acara penghargaan, Tuan Arman menerima piala "Pejuang Ekonomi Rakyat." Dalam pidatonya, ia mengatakan, "Kita harus bersama-sama memberantas korupsi, membangun bangsa yang jujur dan bersih. Demi generasi mendatang." Ruangan penuh dengan tepuk tangan, kamera berputar ke wajahnya yang penuh keyakinan.

Tetapi kamera itu tidak menunjukkan amplop yang ia selipkan ke tangan seorang auditor tadi pagi, atau transaksi anonim di rekening luar negeri dengan nama samaran. Tidak ada yang tahu, atau mungkin semua tahu, tetapi lebih memilih untuk memujinya.

Beberapa hari kemudian, berita besar meledak. Seorang whistleblower anonim merilis dokumen yang membongkar skema korupsi masif. Media sosial geger, tetapi dengan cara yang aneh. Alih-alih marah, sebagian besar orang membuat meme. Seorang influencer berkata, "Kalau nggak bisa korupsi, nggak usah jadi pejabat dong." Video itu mendapat jutaan likes. Komentar teratas berbunyi, "Bang, ngajarin korupsi dong biar bisa jadi kaya."

Paradoks terbesar terjadi di pengadilan. Tuan Arman berdiri di depan hakim dengan ekspresi penuh kepasrahan. "Saya hanya menjalankan tugas, Yang Mulia. Semua uang itu bukan untuk saya, tetapi untuk rakyat." Hakim mengangguk, "Kami percaya pada niat baik Anda, Tuan Arman. Anda dihukum 1 tahun penjara, dengan remisi 10 bulan."

Di luar ruang sidang, wartawan mengerumuni pengacaranya. Sang pengacara berkata dengan nada sinis, "Keadilan telah ditegakkan. Ini bukti bahwa hukum kita adil untuk semua." Semua kamera merekam tanpa jeda, sementara di belakang mereka, papan iklan digital mempromosikan serial drama tentang "Pejuang Antikorupsi".

Beberapa bulan kemudian, Tuan Arman muncul di televisi. Ia tidak lagi memakai baju tahanan, tetapi jas mewah. Dalam wawancara eksklusif, ia berkata, "Saya sudah menebus dosa saya. Kini, saya ingin mengabdi untuk rakyat lebih dalam lagi. Saya akan maju di pemilu berikutnya." Publik bersorak, seakan amnesia adalah bagian dari budaya bangsa.

Pak Darman, yang kini mulai kehilangan pelanggan karena jalanan dipenuhi ojek online, menonton wawancara itu dengan pandangan kosong. "Mungkin benar," gumamnya, "di negara ini, kita lebih suka memaafkan daripada melupakan. Dan itu, nak, adalah tragedi terbesar kita."

Di penghujung cerita ini, ada ironi yang menusuk: sebuah gedung megah baru sedang dibangun. Di gerbangnya terukir tulisan besar: "Museum Antikorupsi." Gedung itu dibangun dengan dana hibah yang tidak transparan. Rakyat datang berfoto di depannya sambil tertawa, karena di dalam hatinya, mereka tahu gedung itu adalah monumen kemunafikan terbesar.

“Tidak terjadi di Indonesia”

Baca lebih banyak cerpen menarik di nyastra, cerita pendek, atau sastra. Jangan lewatkan juga rekomendasi fiksi pilihan dan sastra dunia untuk pengalaman membaca yang mendalam.

#korupsi #hukum #cerpen #cerita_pendek #sastra #cerita #fiksi #paradoks


NYASTRA
NYASTRA Penjelajah sastra dunia

2 comments for "Negara Tanpa Penjahat"