Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Senyum di Balik Kapur: Sebuah Pengakuan yang Tak Pernah Didengar

Langit abu-abu menggantung rendah di atas kota kecil itu, ketika Pak Usman, seorang guru dengan masa bakti 25 tahun, berjalan tertatih membawa papan tulis portabel yang ia beli dari gajinya sendiri. Hari ini adalah hari upacara bendera, tetapi ironisnya, murid-muridnya lebih sibuk merekam video TikTok di lapangan sekolah daripada memperhatikan pidato kepala sekolah. Pak Usman tersenyum pahit sambil memandang ke arah mereka. Senyum itu tak pernah hilang dari wajahnya, bahkan ketika hatinya bergejolak dengan kenyataan yang sering kali lebih kejam dari cerita fiksi.

Senyum di Balik Kapur: Sebuah Pengakuan yang Tak Pernah Didengar


Seusai upacara, ia kembali ke ruang guru yang berisi meja-meja reyot dan lemari penuh dengan arsip yang tak pernah diperbarui. Di salah satu sudut, bu Lina, guru muda yang baru dua bulan bekerja, menangis diam-diam. "Saya dipermalukan di depan kelas, Pak. Ada wali murid yang bilang saya tidak kompeten hanya karena anaknya tidak lulus ujian." Pak Usman hanya bisa menepuk pundaknya, mengucapkan nasihat klise yang bahkan ia sendiri tak yakin kebenarannya.

Sementara itu, ruang kepala sekolah ber-AC berdiri kontras dengan ruang guru yang sesak. Di dalamnya, kepala sekolah sibuk berdiskusi dengan seorang pejabat dinas pendidikan tentang proyek "smart school" yang sebenarnya hanya untuk memenuhi laporan tahunan. "Pak Usman, tolong Anda hadir di pelatihan digital nanti malam," kata kepala sekolah sambil menyerahkan surat tugas. Pelatihan ini adalah salah satu dari puluhan pelatihan yang sering kali hanya berisi materi yang tidak relevan, namun wajib diikuti jika ingin "sertifikasi kompetensi" yang akhirnya tidak membawa dampak signifikan.

Malam itu, Pak Usman duduk di bangku keras balai desa bersama puluhan guru lainnya, mendengarkan pemateri muda yang dengan lantang menjelaskan pentingnya teknologi dalam pendidikan. Ironisnya, projector yang digunakan untuk presentasi sering mati karena listrik desa tak stabil. Seorang guru berbisik, "Bagaimana mau pakai teknologi kalau sekolah kami bahkan tidak punya komputer?" Pak Usman tersenyum kecut, membenarkan dalam diam.

Keesokan harinya, saat ia mengajar di kelas, seorang murid, Dani, yang sering absen, berdiri dengan sikap menantang. "Ngapain kita belajar? Ujung-ujungnya juga susah cari kerja!" Pak Usman terdiam, hatinya bagai disayat. Ia tahu Dani tak sepenuhnya salah. Banyak mantan muridnya yang sekarang hanya menjadi buruh pabrik atau pengangguran di desa. "Tapi ilmu itu bekal hidup, Nak," jawabnya pelan, meski ia sendiri mulai meragukan kata-katanya.

Di akhir bulan, ia menerima slip gaji yang dipotong untuk "sumbangan wajib pembangunan sekolah". Ia tertawa kecil melihat nominalnya, jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, apalagi membeli buku pelajaran terbaru. Di sudut matanya, ia melihat bu Lina memotret slip gaji dan mengunggahnya ke media sosial dengan caption: "Beginilah nasib guru honorer: mengabdi tanpa dihargai." Postingan itu viral, tapi hanya memantik debat panas tanpa solusi nyata.

Hari-hari berlalu dalam rutinitas yang absurd. Sekolah mengadakan rapat besar untuk membahas lomba kebersihan sekolah tingkat kabupaten. Murid-murid dipaksa menyumbang uang untuk membeli cat tembok baru, sementara para guru sibuk membersihkan halaman. Ketika tim penilai datang, semuanya terlihat rapi dan indah. Namun sehari setelahnya, cat dinding mulai mengelupas dan sampah kembali berserakan. "Semua ini hanya kosmetik," pikir Pak Usman sambil mengepel lantai kelas yang bocor ketika hujan.

Pada hari Minggu, Pak Usman diundang ke seminar motivasi yang diadakan oleh sebuah perusahaan swasta. Pembicaranya, seorang influencer terkenal, berbicara tentang pentingnya "mental juara" dalam mendidik generasi muda. Seminar ini diakhiri dengan penawaran produk MLM yang katanya bisa menambah penghasilan guru. Pak Usman pulang dengan rasa lelah yang membuncah, tidak membawa apapun kecuali brosur promosi.

Puncaknya terjadi ketika ia mendapat undangan dari seorang mantan muridnya, Rini, yang kini bekerja sebagai tenaga honorer di sebuah kantor kecamatan. Rini mengaku baru saja mengikuti bimbingan belajar mahal untuk tes CPNS, namun hasilnya nihil. "Guru-guru seperti kita hanya jadi angka statistik, Pak," katanya lirih. Pak Usman hanya bisa memeluk Rini sambil berkata, "Tetaplah berjuang."

Malam itu, Pak Usman duduk di teras rumahnya yang sederhana, memandangi bulan. Ia merenungkan perjalanan panjangnya sebagai seorang guru. Di tengah pikirannya, ia teringat sebuah pepatah yang sering ia ucapkan kepada murid-muridnya, "Pendidikan adalah kunci masa depan." Namun kini, kunci itu terasa seperti terbuat dari lilin yang meleleh di tengah panas kenyataan.

“Tidak terjadi di Indonesia”
#gurumerdeka #pendidikansastra #nasibguru #cerpen #ceritapendek #sastra

NYASTRA
NYASTRA Penjelajah sastra dunia

Post a Comment for "Senyum di Balik Kapur: Sebuah Pengakuan yang Tak Pernah Didengar"