Paradoks di Balik Papan Tulis
Sepotong malam itu, Pak Subur mendapati dirinya berdiri di depan kelas dengan tatapan kosong murid-muridnya yang nyaris seperti dinding. Buku pelajaran yang usang, dengan sampul yang koyak dan bau lembab, tergeletak di meja. Di luar, hujan deras menghantam atap seng sekolah yang bocor. Sementara itu, di layar ponsel pintarnya yang retak, sebuah notifikasi masuk: tagihan pinjaman online. Ia tertegun, memikirkan gaji yang telah habis sebelum sempat menyentuh dompetnya.
Di depan kelas, ia tersenyum tipis dan bertanya, "Siapa yang tahu kapan Proklamasi Kemerdekaan dibacakan?" Diam. Hening. Tangan seorang murid kecil, Lila, terangkat ragu-ragu. "17 Agustus... eh, tahun berapa ya, Pak?" jawabnya dengan gugup. Sebelum Pak Subur bisa merespons, seorang siswa di belakang mengejek, "Wah, masa nggak tahu? Kayak gurunya aja, miskin ilmu!" Kelas meledak dalam tawa. Pak Subur tersenyum getir, berusaha menahan nyeri di hatinya yang makin hari makin terbiasa dengan luka serupa.
Usai kelas, ia melangkah ke ruang guru yang hanya berisi dua kursi tua dengan punggung yang patah. Di sana, ia berpapasan dengan Bu Retno yang tengah sibuk menyiapkan bahan ajar untuk minggu depan. "Pak, tahu nggak? Dinas bilang kita harus ikut pelatihan daring lagi," katanya sembari menghela napas panjang. "Katanya biar sesuai Kurikulum Merdeka." Ia menatap layar laptop usang yang selalu mati mendadak kalau kabelnya goyang sedikit saja. "Laptopnya gimana, Bu?" tanya Pak Subur mencoba bersimpati. "Ya, begini, Pak. Modal doa sama sabar."
Di saat yang sama, di sudut lain kota, sebuah acara digelar meriah. Balon warna-warni menghiasi panggung megah. Para pejabat berdasi berfoto sambil memberikan penghargaan "Guru Inspiratif 2024." Nama Pak Subur tidak ada di sana, meski ia tahu betul bahwa penghargaan itu hanya formalitas untuk laporan kinerja tahunan. "Inilah bukti pemerintah peduli pada guru," kata pembawa acara dengan suara lantang, disambut tepuk tangan gemuruh. Di rumah, Pak Subur menonton siaran ulang acara tersebut dari ponsel retaknya, sambil menyalakan lilin karena listriknya diputus.
Beberapa hari kemudian, sekolah itu menerima kunjungan mendadak dari seorang petugas dinas pendidikan. Ia datang dengan setelan necis, membawa catatan tebal yang penuh istilah-istilah berbahasa Inggris. "Bapak dan Ibu guru, mohon tingkatkan kinerja dan kreativitas. Jangan hanya mengeluh soal fasilitas. Pendidikan butuh inovasi!" katanya dengan nada tegas. Pak Subur memandang papan tulis yang penuh coretan kapur dan menahan tawa getirnya.
Di sudut lainnya, anak-anak Pak Subur bermain dengan buku bekas yang diambil dari sisa limbah kertas sebuah percetakan. Mereka menggambar, membayangkan dunia di mana ayah mereka bukan sekadar "pahlawan tanpa tanda jasa," melainkan pahlawan yang dihargai. Istrinya, yang sehari-hari menjahit baju tetangga untuk menambah penghasilan, menyelipkan sepiring nasi dengan lauk seadanya di meja. "Ayah, ini sisa tadi pagi. Dimakan ya, sebelum dingin," katanya pelan.
Namun, ironi terbesar terjadi ketika pemerintah setempat memasang billboard baru tepat di depan sekolah. "Generasi Emas 2045: Pendidikan Unggul untuk Masa Depan Gemilang!" tulisnya dengan huruf besar dan gambar anak-anak ceria mengenakan seragam sekolah bersih. Di balik papan itu, tembok sekolah retak parah, seolah-olah menertawakan ironi yang bersembunyi di balik kata-kata itu.
Di akhir hari, Pak Subur merenung di teras rumahnya, ditemani bunyi jangkrik dan langit gelap yang tanpa bintang. Ia mengingat sumpah yang ia ucapkan bertahun-tahun lalu saat memutuskan menjadi guru. "Aku akan mendidik dengan hati." Tapi kini, ia bertanya-tanya apakah hatinya sendiri telah habis terkikis oleh waktu. Di bawah cahaya lilin, ia menulis puisi pendek di secarik kertas:
Papan tulis menghitam
kapur putih menari-nari.
Apa yang kutulis di sini
akan sirna sebelum pagi.
Pak Subur tahu, kisahnya tidak akan masuk buku sejarah. Tapi ia tetap melangkah, pagi demi pagi, menghadapi murid-murid yang mungkin suatu hari akan lupa namanya.
“Tidak terjadi di Indonesia.”
#guru #pendidikan #ironi #cerpen #ceritapendek #sastra #pendidikanIndonesia
Post a Comment for "Paradoks di Balik Papan Tulis"