Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Guru yang Mengajar dari Kursi Plastik di Istana Pasir

Denting jam tua di sudut ruangan berdenging pelan, mengiringi suara angin yang menyelinap dari celah jendela berkerangka kayu lapuk. Di ruang kelas yang lebih menyerupai kandang ayam itu, Bu Siti berdiri tegap, walau sebenarnya kakinya gemetar menahan rasa lelah. Tangannya menggenggam kapur yang semakin pendek, seperti mimpi-mimpinya yang perlahan terkikis waktu. Murid-muridnya duduk di bangku reyot yang lebih pantas disebut puing. Tetapi siapa yang peduli? Mereka hanyalah angka-angka dalam laporan tahunan.

Guru yang Mengajar dari Kursi Plastik di Istana Pasir


Hari itu, Bu Siti memulai pelajaran dengan pertanyaan sederhana, “Apa mimpi kalian jika besar nanti?” Seorang anak laki-laki kurus bernama Irwan mengangkat tangan dengan semangat. “Saya ingin jadi guru, Bu!” katanya, dengan senyum tulus yang membuat hati Bu Siti mencelos. “Mengapa ingin jadi guru, Irwan?” tanyanya. “Karena guru itu hebat. Mereka bisa mengubah nasib orang,” jawabnya polos. Bu Siti tertawa kecil, tetapi ada rasa asin di tenggorokannya. Dia tahu betul bahwa kalimat itu, meski indah, adalah kebohongan terbesar yang pernah diceritakan.

Di pojok ruangan, seorang pejabat dari dinas pendidikan datang untuk inspeksi mendadak. Pakaiannya rapi, dengan kemeja putih yang berkilau, kontras dengan debu yang melekat di baju murid-murid. Dia tersenyum penuh formalitas, bertanya soal prestasi, sementara di luar kelas mobil dinasnya terparkir angkuh dengan logo pemerintah yang baru dicat ulang. Ketika Bu Siti menunjukkan rapor sekolah, pejabat itu hanya mengangguk sambil berkata, “Anggaran belum cair, Bu. Sabar saja.” Lalu dia pergi tanpa melihat lagi wajah-wajah kecil yang mengintip dari balik kaca buram.

Bu Siti tahu, ini adalah cerita lama yang terus berulang. Anggaran pendidikan, katanya, adalah prioritas negara. Tapi anehnya, prioritas itu sering kali tercecer di ruang rapat megah, hilang di balik tumpukan dokumen proyek yang entah kapan selesai. Guru-guru seperti dirinya hanya menjadi nama dalam pidato, disebut sepintas lalu untuk mendapat tepuk tangan. Tetapi di kenyataan, mereka seperti berdiri di atas panggung tanpa lampu, bersiap memberi pertunjukan yang tak pernah dilihat penonton.

Hari berikutnya, berita tentang pengangkatan guru honorer menjadi ASN viral di media sosial. Bu Siti membaca berita itu dengan perasaan campur aduk. Di satu sisi, ada harapan, tetapi di sisi lain, dia tahu bahwa hanya sedikit yang akan terpilih. Usianya yang sudah hampir 50 tahun membuatnya semakin jauh dari kata prioritas. Ironisnya, dia tetap harus datang ke sekolah setiap hari dengan gaji yang tak cukup untuk membeli beras sebulan. Kadang-kadang, dia berpikir bahwa dia lebih mirip relawan sosial daripada seorang profesional.

Di ruang guru, para kolega sering bercanda, “Kita ini guru atau hamba?” Tawa mereka pahit, tetapi tidak ada yang bisa menyangkal kebenaran di balik pertanyaan itu. Dalam rapat-rapat, kepala sekolah sering kali memulai dengan laporan tentang target dan indikator, tetapi mengabaikan cerita tentang guru yang harus berjalan kaki berpuluh-puluh kilometer karena tak ada transportasi, atau guru yang harus merangkap jadi petugas kebersihan karena sekolah tak punya dana tambahan.

Pada suatu hari, datanglah kabar gembira: Menteri Pendidikan akan berkunjung ke daerah itu. Guru-guru diperintahkan untuk menghias sekolah seadanya, mengecat dinding yang retak, dan meminjam meja-meja baru dari sekolah tetangga. Anak-anak diberikan seragam baru hasil patungan para guru. Saat menteri datang, senyum buatan menghiasi wajah semua orang. Di hadapan kamera, menteri berkata, “Inilah bukti nyata bahwa pendidikan Indonesia semakin maju!” Ketika dia pergi, semua kembali seperti semula—cat dinding mulai terkelupas, meja-meja dikembalikan, dan anak-anak melepas seragam mereka untuk dipakai lagi tahun depan.

Suatu malam, Bu Siti bermimpi berdiri di depan gedung megah, mengenakan toga, menerima penghargaan atas jasanya sebagai guru teladan. Dalam mimpinya, dia berdiri sejajar dengan para dokter, insinyur, dan pemimpin perusahaan besar. Tetapi saat dia terbangun, realitas kembali menghantam: dinding rumahnya yang berlumut, kalender yang menunjukkan tanggal jatuh tempo utang, dan buku pelajaran yang harus diperbaiki untuk esok hari.

Di akhir tahun ajaran, Bu Siti diberi piagam penghargaan oleh kepala sekolah. “Terima kasih atas dedikasi Ibu,” katanya. Bu Siti tersenyum kaku, menahan rasa ingin tertawa. Dedikasi? Kata itu terdengar seperti penghinaan, mengingat bagaimana dia harus meminjam uang untuk membeli spidol, atau bagaimana dia sering melewatkan makan siang demi murid-muridnya. Tetapi dia tetap mengambil piagam itu, karena dia tahu bahwa di dunia ini, sering kali penghargaan hanya berupa kertas tanpa arti.

Suatu hari, Bu Siti sakit parah. Tidak ada yang datang menjenguk kecuali beberapa murid yang membawa bunga liar dari halaman sekolah. Di ranjang rumah sakit, dia mendengar kabar bahwa pemerintah sedang mempersiapkan proyek besar untuk digitalisasi sekolah. Bu Siti hanya tersenyum lemah. Dia tahu bahwa proyek-proyek besar seperti itu jarang sampai ke desa-desa terpencil. Di tempatnya, bahkan sinyal telepon pun masih sulit ditemukan.

Ketika Bu Siti akhirnya pergi meninggalkan dunia ini, hanya segelintir orang yang datang ke pemakamannya. Para muridnya menangis, tetapi tidak ada pejabat yang hadir. Mereka sibuk di seminar-seminar tentang inovasi pendidikan, berbicara tentang pentingnya menghormati jasa guru. Di dinding sekolah, foto Bu Siti tergantung, dengan tulisan: “Pahlawan Tanpa Tanda Jasa.” Sebuah ironi yang menyakitkan.

“Tidak terjadi di Indonesia.”
#Guru #PendidikanIndonesia #NasibGuru #IroniPendidikan


NYASTRA
NYASTRA Penjelajah sastra dunia

Post a Comment for "Guru yang Mengajar dari Kursi Plastik di Istana Pasir"