Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Guru-Guru dari Masa Depan yang Tak Pernah Sampai

Langit pagi itu kelabu, seolah tahu apa yang akan terjadi di ruang guru sebuah sekolah negeri di pelosok. Pak Damar, seorang guru matematika dengan seragam yang sudah pudar warnanya, baru saja menerima selembar surat dari kepala sekolah. "Selamat," kata surat itu dengan huruf tebal di awal, "Anda akan menerima penghargaan sebagai Guru Berprestasi." Pak Damar tersenyum getir, karena di akhir surat itu tertulis kecil, "Silakan menanggung biaya akomodasi sendiri."

Guru-Guru dari Masa Depan yang Tak Pernah Sampai


Pagi itu, bel masuk berbunyi, tetapi ruang kelas III-B masih kosong. Kursi-kursi berbaris rapi seperti prajurit yang menanti perintah. Hanya ada papan tulis kusam dengan coretan tahun lalu yang tak pernah terhapus sempurna. Pak Damar berdiri di depan kelas, menatap kursi-kursi itu dengan mata lelah. Dari luar, terdengar suara anak-anak bermain kelereng. Mereka tidak datang ke kelas karena hari ini adalah jadwal les tambahan berbayar yang diadakan oleh guru lain. "Belajar yang gratis sudah usang, Pak," kata salah satu wali murid tempo hari. "Anak-anak sekarang butuh yang lebih, dan itu pasti mahal."

Pak Damar tahu, dia tidak bisa bersaing. Dia hanya seorang guru PNS dengan gaji yang dipotong cicilan motor, uang iuran koperasi, dan dana sosial yang ironisnya wajib. Sisa gajinya hanya cukup untuk membeli beras kualitas rendah dan membayar listrik yang kerap padam. Sementara itu, di ruangan sebelah, ada guru honorer yang masih muda, penuh semangat, tetapi hanya dibayar tiga ratus ribu sebulan. “Kita ini bukan guru, Pak,” keluhnya suatu hari. “Kita ini budak pendidikan.”

Di sudut sekolah, ada sebuah toilet yang sejak tiga tahun lalu rusak dan tak pernah diperbaiki. Toilet itu menjadi simbol absurd dari keadaan pendidikan di Indonesia: setengah dibangun, setengah dihancurkan oleh birokrasi. Di papan pengumuman, terpampang foto kepala sekolah yang sedang meresmikan toilet itu tiga tahun lalu. Di bawahnya, tertulis besar-besar: "Menuju Pendidikan Berkualitas."

Di tengah keadaan ini, seorang pejabat dari dinas pendidikan datang berkunjung. Dengan senyumnya yang berkilauan dan jas mahal, ia menyapa para guru yang berjejer dengan senyum dipaksakan. "Bapak dan Ibu Guru adalah pahlawan tanpa tanda jasa," katanya. "Kami bangga dengan dedikasi kalian. Sekarang, mari kita foto bersama." Usai berfoto, pejabat itu berlalu, meninggalkan kotak-kotak makan siang untuk para guru yang diisi nasi dingin dan ayam yang lebih tulang daripada daging.

Saat hari mulai gelap, Pak Damar kembali ke rumah. Ia menyalakan lampu temaram di ruang tamunya yang sempit. Di meja, ada setumpuk kertas ujian yang harus ia koreksi. Tapi sebelum itu, ia membuka telepon genggamnya yang sudah retak layarannya. Sebuah pesan masuk dari grup WhatsApp guru: "Mohon maaf, honor tambahan bulan ini ditunda karena anggaran belum cair." Pak Damar menatap pesan itu lama, sebelum akhirnya mengetik: "Siap, Bu. Terima kasih informasinya."

Di tempat lain, ada guru-guru yang tak kalah ironis nasibnya. Guru honorer yang dipaksa menjadi operator sekolah tanpa pelatihan, guru agama yang dipertanyakan relevansinya di era digital, hingga guru olahraga yang diminta mengajar seni tari karena kekurangan tenaga pengajar. Semua mereka berada di pusaran absurditas, mencoba menjalankan tugas dengan cinta di tengah sistem yang seolah dirancang untuk membuat mereka gagal.

Puncak ironi itu terjadi saat Menteri Pendidikan tampil di televisi nasional, mengumumkan program baru bernama "Guru Masa Depan." Program ini digadang-gadang akan membawa revolusi pendidikan, tetapi realitasnya hanyalah pelatihan daring dengan sertifikat yang lebih bermanfaat untuk naik pangkat daripada meningkatkan kemampuan mengajar. Di layar, sang Menteri berbicara tentang teknologi, inovasi, dan kolaborasi global, sementara di pelosok, Pak Damar masih berjuang mencari sinyal untuk mengunggah nilai siswanya ke sistem online.

Akhir cerita ini tidak memiliki pahlawan, tidak memiliki penjahat, hanya ada para guru yang berjuang di tengah kebingungan. Seperti Pak Damar yang malam itu akhirnya tertidur di atas tumpukan kertas ujian yang belum selesai ia koreksi. Dalam mimpinya, ia melihat anak-anaknya yang sudah lama ia dambakan untuk berhasil. Namun, ia terbangun dengan perasaan aneh, seperti tahu bahwa mimpi itu mungkin tidak pernah menjadi kenyataan.

"Tidak terjadi di Indonesia."
#PendidikanIndonesia #NasibGuru #GuruBerprestasi #IroniPendidikan


NYASTRA
NYASTRA Penjelajah sastra dunia

Post a Comment for "Guru-Guru dari Masa Depan yang Tak Pernah Sampai"